Rezim Lebih Memilih Bangun Jalan Tol, dari pada Jalan Pikiran
Tertarik ternyata bukan barang bekas ini bekas barang, tadinya cat sekarang jadi gendang. Ada barang yang berubah fungsi. Bedakan bekas presiden dan presiden bekas. Bekas presiden akan dikenang karena prestasi tapi ada presiden yang presiden bekas. Yang sana mengolah kesederhanaan yang ini memanfaatkan pamor, dua-duanya punya standar keindahan. Dua-dua memproduksi nada, dua-duanya kita nikmati, kita menikmati keindahan tapi tidak kita pertengkarkan. Komntar wartawan, "bang roky anda liberal kenapa datang ke 212" jadi anda lihat pengetahuan wartawan kontradiksi, suatu yang menyebabkan partitur bernatakan. Kalau anda seorang liberal, anda ingin membenarkan akal sehat orang lain. Pers hilang kemampuan mengolah konsep, pekerjaan dia membuntuti boneka, itu yang ada hari ini. Padahal pers adalah pembuluh darah publik, sekarang dia berubah menjadi selang infus. Dulu kita punya akal sehat berlebih sekarang padam karena kecebur kolam.
Memang hanya belajar ada orang jalanan, memang dari sana belajar dari pada istana yang sibuk menghitung elektabilitas. Seorang warga negara dari Sorong menyumbang 30 jt untuk Prabowo-Sandi dia bawa ke ibu sandi. Berdemokrasi memang seperti itu, mengaktfkan warga negara bukan memakai fasilitas negara. Kita berupaya untuk mengembalikan fungsi pers sebagai pengaktif warga negara.
Sepanjang hari ini pers berupaya untuk mempolisikan Andi Arief hanya karena Andi Arief berkomentar pada tataran satire, dia tidak bilang ada barang itu, andi arief dibilang mesti dicek ini delik satu ke delik lain. Itu kekacauan karena sibuk mempromosikan elektabilitas. Bisa jadi elektabilitas pettahana 90% kalau margin of error 100%. Ada kehangatan berwarga negara di 212 aaward dan itu yang tidak kita miliki. Andaikan pers kembali mengisi akal sehat. Bikin promosi apapun ini sudah bagian, jadi tidak percaya dengan pers. Demokrasi bisa berubah dengan dungukrasi, sekalipun yang terpilih dungu, akan baik jika pers mengaktifkan akal sehat.
Award yang intinya menghargai pikiran orang, orang menulis tentang perubahan tony rosyd yang dihargai pikiran itulah tugas demokrasi yaitu memberi award pada pikiran. Kamera publik harus menyorot pada pikiran bukan pada wajah yang begitu-begitu saja, karen bangsa berdiri dengan akal bermutu, mau dilihat dari kiri atas bawah tetap tidak terlihat otaknya. Bangsa ini didiran oleh kumpulan alam pikiran, kita itaphari harus memberi award pada pikiran. Ada yang disebut Darwin Award atau anti pikiran adalah penghargaan pendunguan diri sendiri, karena membunuh pikiran diri sendiri.
Berusaha membangun akal pikiran. Seperti harapan milineal menghendaki pemimpin yang mampu berpikir karena dunia kedepan berjuang berpikir. Indonesia salah menempatkan infrastruktur, dan pesan bagi milenial mulai menumbuhkan politik of hope, kita membayangkan 10 tahun kedepan mampu duduk jadi pemimpin kooperasi pemimpin universitas, tapi itu menghendaki pembaharuan. Ada 7 juta anak yang 10 tahun akan menjadi milenial mengalami kekurangan gizi, jadi apakah mereka akan di jalan tol dengan akal menciut, apakah sebagai bisnismen ? tidak mereka akan sebagai peminta. Setiap anak yang lahir hari ini terbebani 30 jt, kekurangan gizi sekaligus berhutang. Rezim lebih memilih jalan tol dan lupa membangun jalan pikiran.
Rocky Gerung











Comments
Post a Comment