Presidential Debate or Socialization? (Akbar Faisal and Haikal Hassan)
Isu bocoran telah diberikan. Belum dimulai debat perdana sudah memanas di balik layar, publik dikejutkan dengan materi debat mengenai larangan pertanyaan penangan kasus hukum. Visi dan misi ditiadakan, padahal sejatinya kan mengetahui arah tiap calon. Apa benang merah dari visi yang sifatnya tematik, narasi besar sifatnya urgent sebelum debat. Tak hanya penyampaikan visi dan misi, kisi-kisi debat pun dapat jadi polemik. KPU memberi alasan, untuk menghindari pertanyaan teknis yang sengaja memalukan. Padahal debat capres dapat menjadi alat untuk meyakinkan orang yang masih ragu.
Bagaimana membuat pilpres greget punya modal apa ?
Kiat dari times Akbar untuk meraih suara.
Cukup tahu apa yang terjadi, orang sudah terlanjur marah kalaupun tidak ada niat marah tapi memarahkan diri. Saling mempermalukan semakin hebat, sebenarnya tidak ada yang dibocorkan sebenarnya ada 5 kali rapat KPU yang sama dengan kedua pihak, tidak hadir tapi dapat info dari pejabat. Tidak ada yang dobocorkan itu kesepakatan untuk memberi kisi-kisi kepada kedua pihak yang notabene permintaan kedua pihak, tidak ada pihak yang mempermalukan pihak lain. Kisi-kisi itu adalah petunjuk bagi kedua pihak tentang tema yang akan ditanyakan. Bagi yang ingin kedua pihak berdebat ada ruangnya, segmen pertama pembukaan, dan terakhir penutup, ada dua segmen tanya jawab langsung antara pasclon satu dan dua. Sebenarnya tidak ada yang dibororkan, lalu kenapa diberikan ? KPU menjawab "dalam ruang berpikir kami, ingin kemudian yang diberikan pada calon memilih adalah melihat kebaikan yang lebih banyak, bukan yang paling banyak keburukannya". Dalam debat adalah pertarungan dua banteng salah satu harus mati, apakah siap dengan itu.
Tentang ada 6 segmen, pertama pembukaan, berhalohalo ada segmen 4 ditengah ada pertanyaan 2 segmen dari finelis ada 2 segmen untuk saling tanya jawab, bedanya dengan 2014 Akbar ikut penuh yang ini tidak. Dalam hal menentukan moderator, sekarang KPU memilih untuk bersepakat tentang nama finelis, dengan 2014 apakah kemungkinan pertanyaan tentang team penilai inflasi daerah ada. Maka kemudian kami mencari ruang untuk memenangkan, masyarakat kita harus diproteksi.
Pilih presiden yang baik banyak, bukan buruknya banyak.
Meraih hati kita menyukai seseorang ada dua, apa yang tampak di mata dan di memori bentuk harapan. Kalau dilihat temen-temen masih berfokus pembuktian apa yang telah dilakukan setidaknya dilihat ada yang pernah silakukan Pak Jokowi kalau kemudia diutamakan rasanya tidak terlalu sulit tidak perlu saling menggigit tentu Prabowo baik ada niat baik. Untuk meraih itu yang diperebutkan, mereka 40% orang yang mendapat informasi buruk, niat buruk tidak mengalahkan niat baik.
kiat dari timses Ust Haikal Hasan untuk meraih suara.
TVone mengangkat karena terpengaruh kegaduh media maka tingkat pendidikan belum merata 160 jt hanpone digunakan orang Indonesia karena prasangka maka terjadi kegaduhan. Satu kata ini kebocoran, yang lain tidak ada terus kalau ada kenapa kalau ada kisi-kisi kenapa ? KPU tidak adil, berpihak TVone mengangkan menjadi topik. Hentikan kegaduhan mau ada atau tidak, silahkan mau yang jawab timses silahkan masyarakat akan menilai, ada kertas diviralkan ternyata itu do'a. Seolah jatuh seseorang ini yang menang, sudah hentikan. KPU tidak perlu banyak aturan sudah mengalir.
Menyikapi kesepakatan, bebaskan jangan ada pengaturan yang mau ditanya apa sehingga peluagn kebocoran ada, bebaskan saja ada. Di Amerika mengalir begitu saja, finelis banyak, di TVone bagaimana semua bertanya, debat di kampus UGM, di UI, ITB semua bertanya itu lebih elegan bebaskan mahasiswa bertanya itu lebih elegan. Masih ada mengkritik KPU adakan debat terus menerus kurang hanya 6 biar semua bisa menilai. Soal produktifitas manusia, semua keliling debat kampus.
Meraih hati, sepakat hentikan keburukan tampilkan kebaikan fakta 02, kalau dibandingkan tidak sebanding ajuran rencana dengan rencana tidak usah apa yang dilakukan. Punya angka sendiri tidak sampai 40% sebantar lagi pada panen orang survey sekian dan kita sudah cukup cerdas semua memenangkan pak Basuki, di Bandung angka tidak perlu dipercaya. Angka 40% jelas itu sosialisasi, di Madura adil inilah kami. Di Jepang, baik 02 atau 01 anda semua saudara kami tidak sedikit pun keluar dari mulut saya menghina. Mulai kesana biar Prabowo dan Jokowi pelukan biar masyarakat damai. Sini pak Akbar saya peluk... ini tidak ada masalah, tidak perlu berlebihan hentikan kegaduhan ini.










Comments
Post a Comment