Prabowo Paham Betul Masalah dan Solusi Negara Indonesia
Mari kita pahami kondisi negara, kita sebesar 27 negara eropa sebesar kita Indonesia. Sepertiga adalah zona tropis dunia sisanya ada sub tropis, artinya adalah di zona tropis sepanjang tahun kita dapat matahari dan hujan. Artinya kita dua kali panen, mereka tidak bisa. Dengan hujan setiap tahun dan matahari tiap tahun tumbuhan panen lebih banyak. Seharusnya Indonesia di bidang industri, pertaniaan itu unggul dari sepertiga dunia kita menduduki lebih sepertiga zona tropis bayangkan. Tapi bagaimanalah negara lebih kuat dari segi alam, tidak dapat dipungkiri harga makanan naik dan aneh bin ajaib beras di republik Indonesia lebih mahal dari beras di Singapura, padahal di Singapura tidak ada sawah seperti di Indonesia. Pengangguran terus naik, dengan tolak okur kemiskinan adalah penghasilan 600rb ribu rupiah sebulan, 25rb sehari baru dikatakan miskin. Hutang pemerintah naik terus, sekarang hitungannya naik 1 triliun tiap hari hutang.
Ada yang mengatakan hutang banyak tidak masalah, para ahli yang mengerti hutang mengancam kedaulatan negara. Keadaan demokrasi terancam, demokrasi menuntut berpendapat, kebebasan berhimpun sekarang ada emak-emak mau deklarasi diusir, diusir dari negaranya sendiri dia mau datang ke kota di negara dia diusir, lalu apakah seperti ini republik yang kita cita-citakan ?
Saudara bukan srepublik seperti ini yang kita inginkan, harusnya negara dewasa, negara sudah merdeka 70 tahun lebih seharusnya mengayomi dan memperjuangkan hak rakyat. Kita prihatin kalau aparat negara milik negara, milik bangsa, kalau alat negara tidak mengerti dia harus melindungi segenap bangsa. Rakyat tidak akan terima, jika pelanggaran hukum, pelanggaran UUD yang merupakan konsesus bangsa dibiarkan tanpa perbaikan.
Ini kondisi bangsa 2018 pertumbuhan tidak naik, terancam menjadi miskin selamanya, ada orang Indonesia yang sangat kaya. Ternyata 4 orang terkaya Indonesia, hartanya 584000 kali lebih kaya dari rakyat biasa. Di Indonesia terjadi ketimpangan yang ekstream, hampis setengah kekayaan Indonesia hanya 1% dikuasai rakyat, 10% diatas hampir menguasai 70% kekayaan Indonesia. 4 orang lebih kaya dari 100 juta orang, ini ketimpangan. Apakah kita mendirikan republik untuk 4 orang lebih kaya. Indikator sangat menonjol bahwa setelah 73 tahun merdeka, anak Indonesia mengalami kelaparan, istilah kelaparan diganti jadi kurang gizi. Bayangkan dari 3 anak, 1 anak mengalami apa yang disebut stanting menurut Bank Indonesia, tulang, otot, otak tidak berkembang dengan baik. Artinya sepertiga rakyat ditakdirkan tidak bisa bersaing, bahkan kuli saja kalah dengan bangsa lain. Kecerdasan akan terpengaruh karena sulit mencerna pelajaran. Sebagian besar anak Indonesia bisa baca tapi tidak mengerti apa yang tidak baca, ini kata Bank Dunia. Artinya kita di berbagai sektor kehidupan kalah, dan akan kalah. Menurut beberapa lembaga di dunia indikator ini mengkhawatirkan. Mari kita lihat utang bumi kita 82% dikuasai korborasi, mengakibatkan keadilan. Harus ada pemikiran untuk mengatasi masalah itu. Indikator penghasilan kita, dalam US dolar Indonesia peringkat 152 dari total 172. Dalam indeks pembangunan manusia 113 dari 116, kita 4 besar dari bawah. Dari harapan hidup Indonesia, 168 dari 170, Indikator kesehatan kematian bayi dari perseribu Indonesia urutan 143 dari 144. Kemudahan dapat air bersih peringkat 123 dari 124, rakyat kita sulit dapat air bersih, negara yang 73 tahun merdeka. Indikator spesies binatang punah Indonesia peringkat no 1, mamalia yang terancam punah, tapi rakyat dapat air bersih 2 dari bawah. Indikator peringkat sepak bola nomor 164 dari 171.
Ekonomi baik, rakyat gembira ?
Apa masalah Indonesia ?
masalah yang inti dari masalah Indonesia adalah bahwa sistem yang kita anut sekarang mengakibatkan, dan ini puluhan tahun, mengakibatkan mengalir keluarnya kekayaan nasional Indonesia, kekayaan yang terus keluar dari Indonesia, artinya Indonesia terus menerus turun. Darah negara adalah kekuatan ekonomi. Kalau ekonomi mengalir terus keluar, sudah puluhan tahun kalau kita jujur baca pidato bung Karno, Indonesia menggugat tahun 1930. Inti bahwa ternyata kita lengah sebagai elit, kesalahan kita bersama, karena kita terus terang terlalu percaya terlalu kagum dengan bangsa asing kita terlalu percaya apa yang mereka ajarkan, kita bangga belajar ke bangsa lain, memang kita harus belajar ke mereka, sebelum mereka keluar harusnya kita ajarkan cinta tanah air yang dalam, waspada suku di luar terlalu baik, suku di nusantara terlalu ramah, ada tamu masuk kampung kita silahkan - silahkan saja kita kasih minum dan makan kalau kemalaman disuruh tidur di rumah kita, tuan rumah tidur dari kamar ini terjadi di warga kita.
Belajar yang baik supaya jadi orang, supaya berbakti pada agama, orang tua dan negara. kita diajarkan benar dan salah, semua belajar diajarkan ilmu ini yang benar ini yang salah. Di bangsa lain pelajaran agak berbeda, pertama diajarkan ini ilmu sekolah, benar dan salah, sehabis itu ini ilmu di masyarakat, ilmu sekolah dan ilmu masyarakat. Di sekolah 2 tambah 2 empat, benar dan salah. Ilmu di masyarakat menang dan kalah, dan bangsa tertentu mengajarkan harus menang. Bangsa lain mengajarkan bahwa the end justifice the mean tujuan menghalalkan segala cara.
Ada yang bertanya "pak, ini tentang laut Cina selatan, bagaimana jika jadi presiden, aklau RRC melakukan agresi?" kebetulan ini pernah ditanyakan ke Malaysia "bagaimana pemikiran tokoh Malaysia?" seandainya RRC mau agresif. Jawaban mereka, Malaysia sederhana jawabannya, "melawan pakai apa kita?" kenapa angkatan perang lemah, karena sangat tidak ada uang. Kalau Indonesia perang tiga hari, peluru itu habis hanya 3 hari, bahan bakar tinggal 21 hari setelah itu tidak ada, beras 18 hari cukupnya kata Menteri Pertahanan. Ibaratnya Indonesia ini seorang yang ke lab periksa darah, dokternya dimarahin bilang labnya salah, kepala lab dipanggil, kita cek up kita tidak mengerti dan menerima hasil dari lab. Kenapa sepak bola kalah ? untung under 17 menang, pencak sial alhamdulillah. Anak Uzbek, Kazakstan mereka tinggi, begitu mengusai peraturan mungkin kita repot. Kita harus paham bahwa ada masalah mendasar, kekayaan kita tidak ada di kita. Kita butuh orang pintar di Indonesia, pintar dan punya hati nurani, inti dari semua adalah Tugas kita adalah memperbiki sistem agar sistem ekonomi kalau tidak ada kehendak politik untuk merubah, lihat anak dan cucu akan terus miskin. Ini bisa dirubah dalam waktu cepat.
23 pengusaha muda termkemuka, mereka tanya "pengusaha khawatir kalau prabowo jadi pemimpin akan membuat koalisi, jadi orang politik semua". Dalam pembicaraan kita sudah garis bawahi kalau menang, dan kalau cendikiawan, para guru besar sudah sepakat dengan ulama dan emak-emak insya Allah kita akan menang tapi kalau kita menang kita sepakat kalau kita memberi jatah ke partai politik jatah itu adalah nominasi, bukan jatah PKS berarti jatah PKS, dia akan mencari orang yang diberi kepercayaan, Demokrat, PAN pun demikian. Prabowo bukan hanya prajurit, profesi keprajuritan belajar tentang perang, perang adalah harus dihindari, dapi untuk perang kita harus siap perang, perwira harus paham tentang perang, untuk paham perang harus paham sejarah, belajar politik, ekonomi, salah satu peradaban dunia hanya 12 sampai 13 imperium lebih 500 tahun hanya 12 dan 13 tiongkook 300 tahun, India 3000 tahun, islam lebih panjang 1500 tahun. Ada perdana menteri di kekaisatan Otoman 100 tahun usianya, dia punya pelajaran lingkarang negara "tidak ada negara tanpa tentara, tidak ada tentara tanpa uang, tidak ada uang tanpa warga negara yang bahagia" karena kalau miskin bagaimana bisa bayar pajak, kalau pengusaha tidak percaya pada pemerintah dan merasa tidak nyaman dia tidak akan dagang, dia akan nimbun dagarangan.
Artinya kesimpulan tidak ada negara bisa bertahan tanpa keadilan ini adalah peradaban ribuan ratusan tahun yang harus dikendalikan, sultan, khalifah diajarkan oleh yang lebih tua. Aparat mesti dikendalikan supaya tidak menindas rakyat sendiri, ini bukan pelajaran Prabowo, Prabowo belajar dari Kekaisaran Otoman. Yang kia alami 1% kekayaan luar biasa, para penguasa berbisik "bankir membisikan masalah Indonesia leuquiditas artinya tidak ada uang. Keadilan politik, hukum, ekonomi tidak bisa dipisahkan, kita punya alat terutama pasal 33 UUD 1945 sangat jelas tidak perlu diterjemahkan tetapi selama puluhan tahun pura-pura tidak ada. Elite politik tidak mau ditegakan sederhana bunyi pasalnya "perekonomian bersusun atas bersama dan kekeluargaan" sekarang konglomerasi, apakah kita perangi konglomerat ? tidak bisa. Semua disedot oleh 1% dibawa ke luar negeri rakyat miskin terus, kedua cabang-cabang produksi penting seperti pelabuhan, bandara, air minum, air bersih, waduk, pabrik obat, pabrik pupuk, pabrik baja dikuasai negara. Kita harus mengerti ini warisan pendidirin bangsa, Soeharto, Soekarno, mereka mengerti penjajahan Jepang. Tidak bisa melepas ekonomi harus ada peran negara yang benar. Bumi dan air dikuasai negara, Prabowo tidak punya gelar ekonomi diminta berbicara itu minder tapi berusaha belajar dan baca buku ekonomi, Adam Smith, Ricardo intinya didapat kekayaan yang sebenarnya hanya satu mereka katakan hanya tanah, bumi, hakekat kekayaan itu tanah. Emas berharga tapi kalau terjadi kekurangan pangan biar punya ruangan penuh emas, kalau tidak ada tanah kalian tidak bisa makan. Yang punya tanah yang berkuasa. Mata uang adalah kepercayaan dan kesepakatan, kenapa orang condoh mau pakai dolar karena percaya Amerika kuat. Kalau Indonesia kuat, saya kira tidak perlu khawatir, kalau ada di tangan rakyat berarti produksi kuat, kalau produksi kuat kita yang tentukan harga. Masalahnya apakah kita kuasai tanah kita ? bahwa 80% sudah dikuasai perusahaan swasta, dan banyak perusahaan swasta menjual ke asing. Rata-rata satu ehktar harusnya menghasilkan 1000 dolar tiap tahun. Kita punya 88 juta hutang yang sudah rusak, kalau dari 88 juta hektar kita bisa berdayakan 20 juta saja artinya negara punya 25 juta dolar tiap tahun asal kita punya rumus pasal 33. Perlu ada perbaikan perubahan, para cendikiawan adalh ujung tombak, semua berawal dari kampus, kalau kampus tidak memiliki kesadaran kita harus prihatin. Kalau para elit tidak berani mengambil peran dalam perubahan, saya yakin rakyat yang mengawali perubahan itu sendiri. Tidak ada seorang laki yang membiarkan Ibu dan Istri kelaparan, dan tidak ada Ibu yang tenang anak tidak punya susu.
Prabowo Subiyanto











Comments
Post a Comment